Hidup Mantan Mahasiswa HI

January 23rd, 2007 by hi-ugm

Apa sih untungnya jadi anak HI UGM? Apa sih enaknya kuliah di salah satu jurusan paling bergengsi di Universitas paling bergengsi di negeri ini? Gimana sih rasanya belajar disana? Bakal jadi apa sih setelah bisa lulus di HI UGM yang terkenal dengan slogan “Masuknya susah, lulus apalagi!” itu?

Well mungkin itu pertanyaan yang sampe sekarang masih terus berhamburan di kepala anak-anak HI, baik itu yang sudah lulus, yang masih kuliah atau yang sedang belajar keras untuk masuk HI UGM. Dan pertanyaan yang sama pula yang selalu merasuk di kepala saya, hingga saat ini, 5 tahun setelah saya lulus atau 9,5 tahun setelah saya pertama kali menginjakkan kaki di Kampus FISIPOL.

Selama itu pulalah saya kemudian menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan diatas, satu demi satu terjawab semua seiring dengan perjalanan hidup saya yang bisa dibilang gak mulus-mulus banget.

Setelah didesak terus oleh moderator akhirnya saya putuskan untuk menulis sekelumit tentang hidup saya, well tadinya saya pikir hal-hal seperti ini akan saya simpan sendiri, tapi setelah saya timbang-timbang bahwa apa yang saya alami mungkin dapat berguna dan diambil pelajaran oleh orang lain maka akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya di blog ini.

Masih tertarik untuk terus membaca tulisan ini? Bagus, berarti anda termasuk orang yang akan menemui beberapa hal yang mungkin aneh, ganjil, bahkan absurd dalam tulisan saya ini.


OSPEK

Mari kita mulai dari saya pertama kali masuk HI, saya seorang lulusan SMA di sebuah tempat di ujung Sumatera (tebak sendiri, ujung atas atau ujung bawah). Saya masuk HI pada tahun 1997, lewat UMPTN, well kenapa saya sebut ini karena menurut saya sangat menarik untuk melihat sebuah anggapan mahasiswa UGM di jaman saya (gak tau sekarang masih seperti atau tidak), di jaman saya ada anggapan bahwa masuk lewat UMPTN itu lebih bergensi ketimbang masuk lewat jalur lain seperti jalur bibit unggul atau bibit atlet.

Saat itu masih ada yang namanya Ospek (walaupun bahasanya diperhalus dengan nama yang aneh, saking anehnya saya sudah lupa) tapi intinya ya tetep sama, ya Ospek itu, beruntunglah mahasiswa sekarang yang mungkin sudah tidak merasakan lagi bagaimana sebuah  feodalisme terus lestari saat itu, cukup aneh mengingat mahasiswa FISIPOL biasanya adalah mahasiswa yang paling menolak adanya kekerasan dan pemaksaan tapi di lain pihak ketika masa Ospek tiba semua senior berlaku layaknya tuan besar, ya saat itu sih yang paling sering terjadi adalah dibentak-bentak, di hardik, di suruh push up dan masih banyak lagi. Tapi ada satu hal yang membuat saya saat itu mual bukan, bukan bentak-bentaknya (saya sudah biasa di bentak emak saya), bukan pula menghardiknya (saya pikir itu adalah bentuk pelampiasan senior yang mungkin sedang ada masalah), dan bukan pula karena disuruh push up nya (jaman SMA saya pernah ikut paskibra yang dimana push up adalah makanan sehari—hari), justru yang paling mengganggu saya adalah bau mulut senior itu, ya sekali lagi bau mulut mereka, saya pernah mengalami dibentak-bentak hanya karena menatap mata seorang senior (hal yang sangat dilarang di masa ospek) dan saya dibentak oleh sekitar 5 orang senior yang kesemua mulutnya mengeluarkan bau alcohol! What the hell saya pikir, ini sebenarnya kampus atau lapo tuak sih? Apa maksud mereka dengan meminum alkohol sebelum menghukum atau membentak anak-anak baru? Untuk hal ini saya sampai sekarang tidak menemukan jawabannya.

Ospek waktu itu dikatakan sebagai pembekalan awal untuk belajar di kampus, Bah! saya pikir, pembekalan macam apa yang akan kita dapat kalau kita disuruh merayu pohon! (teman saya pernah di hukum untuk merayu pohon selama setengah jam) saya pikir ini kampus atau RSJ? Belum lagi ada teman saya yang dihukum keliling lapangan disuruh berteriak “saya gila”, sebenernya yang gila teman saya atau yang nyuruh?

Tapi apapun itu, ya seperti itulah Ospek dimasa saya, itu belum lagi terhitung dengan segala macam tugas yang mungkin tidak masuk diakal, mulai dari disuruh mengumpulkan uang pecahan 25 rupiah, mengumpulkan kacang hijau sebanyak 1000 butir, membuat tugas prakarya yang disuruh nya jam 7 malam dan harus sudah selesai pada esok hari jam 5 pagi, kalau saya pikir-pikir alangkah gilanya keadaan saat itu. Kalau dibilang itu merupakan saat pengenalan dan orientasi kampus, saya pikir jauh sekali dari tujuannya, karena begitu selesai Ospek kami bahkan tidak tahu bagaimana cara mengisi KRS!

Ospek saat itu berlangsung 4 hari, 2 hari di level universitas, dan 2 hari di level Fakultas, kabar yang beredar saat itu adalah bila kita tidak menghadiri semuanya maka kita dinyatakan tidak lulus Ospek, trus apasih akibatnya kalo kita gak lulus ospek? Well, ternyata sertifikat Ospek itu cuma diperlukan kalau kita mau ikut daftar beasiswa, that’s it! Dan belakangan juga terungkap kalo ternyata yang dibutuhkan hanya fotokopian saja, alhasil tentu saja kemudian banyak sekali fotokopi piagam-piagam ospek palsu yang beredar dengan cara menutup nama asli dan memfotokopinya, well a little bit crime for a scholarship, ya gak papa lah.

So karena saya merasa agak aneh dan tidak nyaman sama sekali dengan Ospek itu, akhirnya saya hanya datang di hari pertama dan hari terakhir, dan guess what? Saya dinyatakan lulus dan memperoleh piagam Ospek, mau tau gimana caranya, ya ketika saya masuk di hari terakhir lalu ditanyain (dengan nada membentak-bentak tentunya) oleh  para senior, saya jawab saja dengan jawaban andalan sejuta umat di negeri ini ketika mereka bolos atau absen, ya! Tebakan kamu tepat, saya jawab dengan “Maaf Raka, saya sakit”. Oh ya mengenai panggilan Raka itu adalah panggilan untuk senior laki-laki,sedangkan untuk perempuannya panggilannya ‘Rakanita”, mau tau artinya? Sampe sekarang saya juga gak ngerti artinya apa, mungkin mereka merasa diri sebagai Rano Karno di film Puspa Indah Taman Hati kali ya! (buat yang gak tau, dalam film itu Rano Karno beperan sebagai Raka)

After all, saya ternyata dinyatakan lulus dengan hanya masuk 2 hari. Dan yang menyedihkan ternyata ada teman saya dengan segala daya dan upaya, masuk 4 hari, mengeluarkan banyak uang untuk keperluan semua tugas-tugas yang aneh-aneh dan ternyata dinyatakan tidak lulus! Entah kenapa…


KULIAH

Oke sekarang kita maju selangkah, saya ingin bercerita masa-masa kuliah di HI dulu. Bukan bermaksud mendiskreditkan pihak tertentu, tapi ini juga kayaknya berguna buat kalian yang sekarang masih kuliah, saya ingin cerita beberapa hal yang menarik tentang dosen-dosen HI.

Ada seorang dosen perempuan di HI yang cukup senior, dimana kalo kita ujian jangan pernah berharap kamu bakal dapat nilai baik kalo jawaban kalian hanya dua lembar walaupun jawaban kalian betul semua. Karena bagi ibu dosen yang satu ini nilai ujian berkorelasi dengan banyaknya jumlah kertas yang kalian gunakan, sebagai contoh, kalo kalian bisa menghabiskan 5 halaman folio dalam menulis jawaban maka otomatis dapet A, trus kalo 4 halaman dapet B, begitu terus sampai kalo kalian hanya satu halaman maka bersiap-siaplah untuk dapet D!

Trus ada juga dosen yang kalo ngasih nilai anak didiknya sesuka-sukanya, dosen satu ini gak pernah meriksa ujian anak didiknya, kalo ngajar jarang-jarang dan sekalinya ngajar gak lebih dari 10 menit. Saya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana bapak dosen satu ini kalo ngasih nilai di daftar nilai dia menulis sekenanya saja! Jadi berdoalah kalo dia ngasih nilai semoga waktu di kolom nama kalian dia menuliskan nilai A. Oh ya buat kamu yang perempuan apalagi yang dianugerahi wajah cantik hati-hati dengan dosen satu ini, beliau terkenal mata keranjang bo!

Sekedar mengingat dosen-dosen lainnya maka saya memiliki rekaman memori mengenai beberapa dosen, seperti Alm. Pak Sugiyono yang selalu bercerita soal pengalaman hidupnya di Amerika dengan kota “Pennsylvania” dan mengajarkan bagaimana cara memakai dasi yang baik dan benar , trus pak Mochtar yang kalo ngajar volume suaranya lirih sekali, Bu Titik yang mengutamakan disiplin dilarang telat dan berpakaian seadanya kalau beliau ngajar maklum saja dijaman saya kuliah dulu masih banyak yang suka pake kaos oblong dan sendal jepit kalo kuliah, dan juga masih ada Pak Rizal yang mejanya penuh dengan lukisan sang anak dan mudah dikenali dengan logat batak yang kental serta  kata-katanya yang masih saya ingat “tidak lulus kau!”. 

Saya juga termasuk heran dengan range waktu kuliah di HI UGM yang menurut saya aneh bin ajaib, bayangkan baru 2 kali pertemuan dengan satu dosen tiba-tiba sudah ujian Mid semester, gak sampe dua bulan kemudian eh udah ujian akhir, walhasil sepertinya tidak pernah ada mata kuliah yang benar-benar tuntas di HI UGM itu.

Jaman saya kuliah dulu, angkatan saya termasuk yang terkemuka di cabang-cabang olahraga tertentu, kalo cuma sepak bola, bola voli atau bola basket sih boleh di adu dengan angkatan lain, bahkan dengan jurusan lain walaupun kalo maen bola banyakan berantemnya ketimbang maennya hehe…

Setelah menghabiskan semua teori dan mengambil mata kuliah pilihan, saya kemudian melanjutkan menulis skripsi. Oh ya buat kamu yang masih kuliah di HI saya kasih saran, biar IP kamu tinggi maka pinter-pinterlah milih mata kuliah yang dosennya gampang ngasih nilai bagus, jangan sok-sok an ngambil kuliah yang relevan, ambil aja kuliah dari jurusan lain yang antah berantah, gak ngerti atau gak ada kaitannya dengan HI sekalipun gak papa yang penting dapet A.

Skripsi saya ngambil soal Eropa, banyak yang bilang kalo nulis skripsi itu susah dan lama sehingga banyak mahasiswa yang kepentok di skripsi. Kalo saya boleh kasih saran buat kamu yang sekarang sedang nulis skripsi ada dua hal penting yang kudu diinget, pertama jangan pernah memikirkan untuk jeda walaupun hanya sehari apalagi seminggu karena begitu kamu berhenti maka kamu akan berhenti lagi dan lagi. Trus kalo kamu ingin beristirahat ketika menulis skripsi, berhentilah disaat kamu merasa sedang bersemangat-semangatnya sehingga kamu akan selalu ingat akan skripsi kamu, kalo kamu berhenti ketika kamu mentok maka saya bisa jamin kalo skripsi kamu itu akan berlanjut paling sebentar 2 minggu kemudian, gak percaya? Coba saja!

Saya menyelesaikan skripsi saya hanya dalam jangka waktu satu bulan, bukan, bukan karena saya pinter tapi karena saya menjalankan dua hal diatas. Dan yang paling unik adalah ujian skripsi saya yang hanya memakan waktu 15 menit! Dan saya dinyatakan lulus dan dapet nilai A, sekali lagi ini bukan karena saya pinter atau skripsi saya demikian dahsyat, tapi karena dosen-dosen nya gak ada yang capable di topik yang saya ambil (ini menurut pengakuan dosen penguji sendiri loh), so satu lagi saran buat kamu, kalo mo ngambil topik skripsi ambil yang kira-kira gak ada di mata kuliah hehe…

Tanggal 19 Februari 2002 saya diwisuda bersama ribuan orang lainnya, rasa bangga dan rasa haru menyeruak di kala itu, apalagi kedatangan orang tua dan keluarga besar yang memberikan semangat yang besar, buat kamu yang akan lulus jangan pernah melewatkan moment wisuda, karena itu adalah pengalaman sekali seumur hidup, ada beberapa temen saya yang bilang “ah, ngapain ikut wisuda, kan gak wajib, lagian Cuma ngabisin duit aja”, kalo saya bilang sih wisuda itu hal yang wajib dan sacral untuk diikuti, karena kalo lulus kuliah tanpa mengenakan toga dan berfoto di lobby HI rasanya kurang afdol!


SETELAH LULUS

Sekarang kita masuk ke tahap kehidupan saya selanjutnya, yaitu masa-masa pasca lulus dari HI.
Sama seperti kebanyakan lulusan lain, lulus dari HI UGM adalah suatu hal yang membanggakan dan membuat semangat berkobar ketika kita harus bersaing dengan lulusan almamater lain dalam mencari kerja. Berhubung HI selalu identik dengan menjadi diplomat maka saya juga mencoba untuk ikut ujian Departemen Luar Negeri yang diadakan setahun sekali itu.

Bersama ribuan pelamar lainnya saya ikut ujian tersebut, saya ikut dua kali malah yaitu tahun 2003 dan 2004, dan semuanya berakhir dengan kegagalan. Satu hal yang saya cermati di ujian menjadi pegawai Deplu ini adalah ternyata persentase peserta yang lulus justru kebanyakan dari jurusan Sastra (bahasa asing tentunya!). Lulusan HI sendiri malah hanya segelintir yang lolos, sekedar melihat ke angkatan saya hanya ada 2 orang, sekali lagi 2 orang yang masuk Deplu. Akhirnya saya berpikir ngapain kita capek-capek kuliah sekian tahun dengan segala mata kuliah diplomasi, negosiasi, Politik Luar Negeri, dan segala macam tetek bengek kalau ternyata ujian Bahasa jauh lebih dinilai ketimbang ujian ilmu ke diplomasiannya sendiri?

Buat kamu yang emang pengen banget jadi diplomat saya sarankan dari sekarang untuk mempersiapkan diri kamu mengikuti les bahasa asing, jangan bahasa Inggris karena pesaingnya ribuan dan kamu pastinya akan kalah dengan anak-anak lulusan sastra Inggris yang udah 4 tahun belajar. Ambillah bahasa yang masih jarang peminatnya seperti Jerman, Arab, Rusia atau Spanyol. Asal kamu tahu dulu di jaman saya test deplu hanya ada 2 orang yang ikut ujian bahasa arab dan salah satu dari mereka lulus, hanya ada 2 orang berbahasa Rusia dan salah satu dari mereka lulus, bandingkan dengan yang ikut Bahasa Inggris dari sekitar 1000 orang hanya 90 an orang yang dinyatakan lulus. Trus ada tips juga buat kamu yang nanti mengikuti test deplu, sering-seringlah baca berita yang ada di website deplu, kalau perlu download semua, karea dari sanalah 90% soal-soal yang akan keluar.

Tidak lulus dari deplu saya lalu mencoba melamar kemana-mana, Harian Kompas terbitan Sabtu dan Minggu serta website JobsBD adalah teman setia saya kala itu, setelah mengirim ratusan lamaran dan CV akhirnya saya di terima jadi reporter di salah satu stasiun televisi di Jakarta, hampir setahun saya disana namun saya merasa tidak betah karena gajinya selalu besar pasak daripada tiang, akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke Production House dan menjadi staff creative disana. Hanya bertahan 2 bulan saya lalu pindah lagi ke perusahaan consumer goods penghasil makanan kesehatan, saya diplot di bagian promotion and event. Hanya bertahan 6 bulan saya lalu hijrah lagi ke perusahaan operator seluler, seiring waktu berlalu saya sudah hampir 2 tahun di perusahaan ini dan sungguh menyenangkan ketika saya ditempatkan kembali ke Yogyakarta.

Kenapa saya ceritakan pengalaman kerja saya, itu supaya kalian dapat melihat bahwa tidak ada satupun dari pekerjaan saya yang memakai ilmu yang saya dapat ketika kuliah di HI dulu, jangan kan bicara soal diplomasi dan Resolusi konflik, ekonomi internasional dan Politik Luar Negeri, lupakan juga ilmu sebangsa Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Hukum, apalagi Kewiraan dan dasar-dasar logika wah gak banget!

So ngapain sih kita kuliah di HI kalo gak jadi diplomat? Entahlah sampai sekarang saya juga belum bisa menjawab pertanyaan itu, karena memang di kenyataan dunia luar sana tidak ada pekerjaan selain diplomat yang memakai ilmu yang kita dapatkan di HI. Teman-teman seangkatan saya ada lebih dari 10 orang yang menjadi Bankir saya berpikir kenapa juga dulu mereka gak kuliah di Ekonomi aja, lalu ada sekitar 5 orang yang menjadi wartawan saya kemudian juga berpikir kenapa juga gak kuliah di Komunikasi atau D3 broadcast aja dulu?, lalu ada bejibun yang menjadi marketing perusahaan ini dan itu (termasuk saya) saya juga berpikir kalau tau begini kenapa gak kuliah di YKPN aja dulu?

Terus terang sampai dengan saat ini yang saya rasakan Ijazah HI saya hanya berguna untuk “meresmikan” status saya sebagai lulusan S-1, dan asal kalian tahu ketika head hunter perusahaan udah mulai mencari pegawai maka sudah tidak ada lagi bedanya antara lulusan HI dengan lulusan pertanian, lulusan UGM dengan lulusan Pelita Harapan.


KESIMPULAN DAN SARAN

Di akhir tulisan ini ada beberapa point yang ingin saya tekankan kepada kalian terutama yang masih kuliah dan juga saran kepada Departemen Luar Negeri (semoga temen-temen di deplu membaca tulisan ini dan menyampaikannya)
1.    Buat kamu yang pengen lulus, pastikan IP kamu diatas 3,00 karena sepertinya jaman sekarang IP segitu udah menjadi syarat mutlak. Head Hunter perusahaan tidak akan membedakan entah kamu dari UGM atau Universitas kacangan yang penting IP nya diatas 3,00 jadi buat kamu yang punya IP dibawah 3,00 tunda dululah keinginan kamu untuk lulus.
2.    Ada enaknya juga jadi lulusan HI karena kesempatan untuk menjadi selain diplomat terbuka lebar mulai dari wartawan, penerjemah, banker, marketing dll, jadi buat kamu yang gagal test Deplu tenang aja, masih banyak pekerjaan lain, walaupun pada akhirnya kamu akan merasa rugi dulu kuliah di HI tapi gak papa, itu lebih baik daripada gak kerja.
3.    Oh ya, tolong Mars HI dirubah, anak-anak HI merasa terhambat kemajuannya karena liriknya berbunyi “We Shall Not be Moved”, gimana mau maju or lulus kalo bergerak aja gak boleh?
4.    Kepada Departemen Luar Negeri saya memberi saran agar HI UGM dijadikan semacam ikatan dinas, sungguh tidak fair kalau kami yang belajar Diplomasi, negosiasi dan resolusi konflik serta Politik Luar Negeri harus dinilai berdasarkan kemampuan Bahasa Asing kami, dimana di HI UGM bahasa Inggris hanya diajarkan sampai Bahasa Inggris II dan tidak ada pelajaran bahasa asing lainnya sama sekali! Kalau misalnya Deplu tidak bisa memberikan ikatan dinas at least prioritaskan lah para lulusan HI dalam ujian Deplu. Semoga ada pejabat deplu yang nyelonong masuk blog dan membaca ini.

Well sepertinya sampai disini saja saya menulis blog ini, sudah terlalu panjang, nanti malah saya dikira curhat hehe… terimakasih banyak kepada bapak moderator yang sudah mau memuat tulisan ini. Salam buat semua alumni, dosen, ketua jurusan, dan mahasiswa yang ada di HI. Merdeka!!!!
Terakhir, kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung dan tersindir dengan tulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis:
Rasyefki - HI97

Pemilu…oh Pemilu…

December 8th, 2006 by hi-ugm

Alooo semua. Lama bangeet neeeh gak up-load ke blog. Gak sibuk seeeh cuman bingung mo nulis apaan ya?? Daripada gak ada cerita, cerita tentang pemilu di Venezuela nyoook. Walopun sebenernya dah basi tapi tak masalah-kan??? Well, pastinya hasil pemilu semua dah tahu deeh apalagi bagi penggemar CNN, yup saudara-saudara El Commandante Hugo Chavez Frias terpilih kembali sebagai Presiden Venezuela untuk periode 2007-2013. Si tokoh kontroversial satu ini menang mutlak dengan memperoleh 63% suara. Saya gak akan cerita yang ada kaitannya dengan substansi, biarkan pengamat politik yang menceritakannya untuk anda. Saya hanya akan bercerita kehebohan saya menyambut datangnya pesta demokrasi di Venezuela ini dan pernak-pernik dibelakangnya. Mari..mari kita mulai…

1. Penimbunan Sembako dan Kampanye Oposisi
Sebenarnya suasana menjelang pemilu biasa saja, semua berjalan lancar tak ada masalah setidaknya untuk saya. Namun, sebagai seorang yang dikaruniai anugrah cepat panik oleh Tuhan, keresahan mulai melanda tatkala melihat Ibu2 rame2 menumpuk sembako di rumah sebagai persiapan kalo terjadi kekacoan sesudah pemilu. Mau tak mau, suka tak suka saya pun harus memasang strategi untuk menghadapi kemungkinan itu. Delapan hari sebelum pemilu yang jatuh 3 Desember 2006, pagi-pagi saya sudah ngacir ke supermarket untuk memborong sembako. Kenapa pagi hari saya pilih, karena pukul 10.00 di hari yang sama akan ada kampanye calon oposisi Manuel Rosales. Kalo tidak mau terjebak macet or paling apes terjebak dalam kerusuhan ya emang harus berangkat pagi.

Ops ternyata acara belanja memakan waktu yang cukup lama mengingat banyaknya barang yang harus dibeli dan adanya antrean yang lumayan di kasir. Setengah deg2an saya keluar dari supermarket, harap2 cemas semoga tidak terjebak dalam kemacetan kampanye.

Ternyata harapan tinggal harapan. Kemacetan yang saya hindari tampak jelas di depan mata. Sambil menyetir  saya berdoa dengan khusuk dalam hati "Tuhan semoga ini hanya sekedar kemacetan kampanye biasa".  Di depan, kanan dan kiri saya, dari mobil2 Toyota Prado, Land Cruiser, Grand Cherokee, Ford Explorer, Expedition dan mobil 4WD lainnya tampak berkibaran bendera Venezuela dan seruan atrevete..atrevete a cambiar (I dare you to change). Banyak juga yang berjalan kaki, baju yang mereka pake modis dan kweren. Rata-rata perempuan memakai baju yang memamerkan perut dan udel serta memakai kacamata cengdem. Hmm..gantheng2 dan cantik2.

Mengamati mereka dari dekat, saya semakin memahami betapa berbedanya pendukung Chaves dan Rosales. Pendukung Rosales rata2 orang kaya, keturunan Eropa dan berpendidikan. On the other hand, pendukung Chavez, keturunan kulit hitam, miskin dan berpendidikan seadanya.

Finally, doa saya dikabulkan oleh Tuhan, kemacetan itu ternyata hanya kemacetan kampanye biasa. Setelah menyetir hampir 1 jam (biasanya hanya 10 menit), saya tiba di apartemen tercinta. Oh ya ada yang kelupaan, di jalan saya bertemu dengan tetangga tersayang Sr. Gonzales yang berjalan sambil mengibarkan bendera Venezuela.

2. 3D or 3 de Diciembre
Sehari sebelum hari H, sekali lagi pagi-pagi saya sudah ngacir pergi. Tujuan kali ini adalah mengisi bensin full tank dan membeli voucher pulsa HP. Ya siapa tau benar2 ada kerusuhan, setidaknya mobil saya terisi penuh demikian pula pulsa di HP saya.

Mantap sudah saya menghadapi pemilu kali ini. Rasanya segala persiapan saya berjalan dengan baik. Dan tibalah 3D. Pagi itu terasa sepi, mungkin tetangga saya pagi-pagi sudah pergi ke TPS2.  Memasang TV di channel lokal, saya mendapatkan pemandangan antrean panjang orang2 di TPS2 yang ada. Hari itu saya seharian tinggal di rumah sembari menikmati Batagor buatan sendiri. Hmm yummy.

Tiba malam hari, saatnya pengumuman sementara pemenang pemilu. Pemilu di Venezuela dilakukan melalui mesin otomatis tidak manual seperti di Tanah Air tercinta. Sehingga proses penghitungan suara-pun berjalan dengan cepat. Kurang lebih pukul 10 malam lewat, CNE (semacam KPU di Indonesia) mengumumkan hasil sementara bahwa El Commandante Hugo Chavez Frias terpilih kembali sebagai Presiden Venezuela dengan hasil 61% mengalahkan Rosales yang mendapatkan 38% suara.

Tak lama sesudah pengumuman itu, suara panci dan wajan dipukul rame berdentingan ditimpali dengan teriakan-teriakan fraude..fraude (fraud..fraud). Sementara dari barrio, kelihatan nyala kembang api merayakan kemenangan Chavez walopun saat itu masih hasil sementara.

Ya inilah Venezuela, begitulah kaum oposisi menyuarakan kekecewaannya kepada pemerintah secara langsung yaitu dengan memukul panci dan wajan keras-keras. Dalam bahasa Spanyol aktivitas ini dinamakan Cacerolazo (untuk arti lengkap bisa lihat di Wikipedia). Si Mbak dengan polosnya bertanya "Apa mereka gak sayang sama panci dan wajannya ya Bu’?". Padahal di sini panci dan wajan kan mahal. Hihihi. Itu pertanyaan sama yang tersimpan di hati saya.

3. Life after 3D
Hari Senin, berangkat kantor suasana sangat sepi. Jalanan yang biasa macet terasa sunyi. Hmm mungkin pendukung Chavez mabuk dan kecapekan sesudah semalaman berpesta dan oposisi mungkin masih menangis meraung-raung di dalam rumah.

Kerusuhan, kekacauan yang diramalkan banyak pihak akan terjadi sesudah pemilu, Alhamdulillah ternyata tidak menjadi kenyataan. Thanks to both sides terutama Manuel Rosales yang mau menerima kekalahannya secara lapang dada. Sementara itu, Chavez seperti biasa memproklamirkan kemenangannya sebagai kemenangan untuk sosialisme dan kemenangan melawan imperialisme.

Di kantor, Jose yang pendukung Chavez tampak tersenyum bahagia sementara Blas pendukung Rosales hanya tersenyum kecut ketika saya menanyakan kabarnya pagi itu.

Tampaknya jargon chavizta "Uh ah Chavez no se va" (Chavez isn’t going any where) akan tetap nyaring terdengar setidaknya untuk 6 tahun ke depan.

Rohma Laksana
HI-94
Sumber

Salam manis dari negeri sakura di musim dingin

December 7th, 2006 by hi-ugm

Orang akan bilang:

Belum ke Perancis kalau belum ke menara Eifel,

Belum ke Cina kalau belum ke Tembok Besar

Belum ke Italia kalau belum liat menara Pissa.

Gimana dengan Jepang??

Apakah orang akan bilang, belum ke Jepang kalau : belum lihat sakura, belum naik gunung Fuji, belum ke Kyoto, belum pakai kimono, dll?

Sejak dari bulan 3 Maret 2006 aku ada di Jepang ini, aku bener-bener merasa negeri ini benar-benar kaya; baik secara ekonomi, kebudayaan, sumber daya alam, tempat rekreasi, dll. Ga heran, pemerintah Jepang, dengan bangganya, menuliskan `Japanese Gifts` di depan buku promosi pariwisatanya.

Nah, disini aku bakal cerita sedikit dari pengalaman yang aku rasakan selama ada di negeri sakura ini (setelah kemarin ditodong oleh sang moderator FS HI. Hehe..).

Tapi sebelumnya, perkenalkan:

Namaku Ascana Luisa Gurusinga (biasanya dipanggil Scan)
HI 2003.

Sekarang lagi mengikuti program pertukaran di Universitas Kokushikan, Tokyo, Jepang.

Flash back dikit, sebelumnya ga pernah kepikiran kalau bakal pergi ke Jepang. Walaupun udah jadi impian sejak kecil untuk bisa ke luar negeri. Sampai pada bulan juni 2005, ada tawaran beasiswa dari Universitas Kokushikan yang dipajang di papan informasi kampus Fisipol (pada tau tempatnya, kan?!). Nah, setelah membaca seluruh persyaratan yang diperlukan untuk melamar, dan kira-kira bias mengajukan diri, aku pun langsung sibuk ngurusin seluruh keperluan untuk itu.

Kira2 persyaratannya gini:

   1. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK,)
   2. Surat kesehatan,
   3. Fotokopi Paspor,
   4. kemampuan bahasa Jepang (suggested),
   5. rekomendasi dari dosen,
   6. dan mengisi formulir dari kampus bersangkutan (didalamnya butuh: CV dan essay singkat).

Nb: persyaratan bisa berbeda-beda, tergantung kampus dan pemberi beasiswa yang bersangkutan.   

Sempat ragu juga untuk melangkah ke sana, karena secara pribadi, aku sangat menikamti kehidupan kampus dan kegiatan mahasiswa yang bener2 sangat menyenangkan saat itu. Tapi, akhirnya aku mendaftar juga. Ga tau juga sih, mungkin emang udah jodoh, walaupun persiapan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan itu mepet banget, tapi ternyata aku bisa mendapatkan semuanya sebelum deadline yang ditentukan oleh UGM.

Singkat cerita, sebulan setelah itu, aku dapat telepon dari Universitas yang menyatakan bahwa aku diterima untuk program pertukaran pelajar ini dan mereka langsung menanyakan perihal keberangkatanku (walaupun programnya dimulai setengah tahun setelah itu). 

And, here I am. Diawali dengan rasa takut, bingung, kaget dengan banyak hal baru dan bener2 berbeda dari yang sebelumnya aku rasakan dulu. Masalah pertama, (of course), bahasa. Ini aku alami dari awal sekali aku menginjakkan kaki di bandara Narita. Aku ga bisa berbahasa Jepang dan staf dari universitas yang datang menjemputku ga bisa bahasa Inggris. Can u imagine?? Praktek bahasa tarzan pun terjadi. waktu itu kita berkomunikasi dengan pulpen dan kertas untuk menggambar. Wow!! (sekarang, kalau inget ini, suka ketawa2 sendiri. Hiii…!!). Bukan hanya itu saja, di hari yang sama, aku sudah harus langsung dihadapkan dengan harga barang2 yang mahalnya selangit (waktu itu, masih selalu mengkonversikan yen ke rupiah). Bayangin aja, aku harus menghabiskan sekitar 750.000 rupiah untuk kasur busa (dan itu bener2 yang paling murah). Tambah lagi satu keraguanku, `will I survive?`.

However, Life should go on. Menyerah?? Enak aje!! Ga boleh gitu donk, Scan. Mau ga mau, aku harus berpikir seperti itu. Ga ada kata menyerah. Soalnya, aku ga hanya bawa pribadiku sendiri, meskipun segala sesuatunya harus aku jalani sendiri. Selalu mikirnya, aku harus sadar kalau aku ada di sini, sebagai representasi Indonesia. Orang-orang yang ada di sinipun selalu menjadikan kami sebagai representasi negara masing-masing. Mau ga mau, kita harus bener-bener hati-hati. (jadi penasaran, selama ini orang-orang yang ada di sini jadi punya kesan apa ya tentang Indonesia?? )   

Setelah menjalani kehidupan di sini, akhirnya aku menyadari bahwa aku cukup beruntung dengan lingkunganku sekarang; tinggal di asrama yang kecil (dengan kapasitas maksimal 20 orang, yang membuat kita semua bisa saling kenal), kuliah di kampus yang letaknya dekat asrama, hidup dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa; ada temen2 sesama mahasiswa pertukaran (dari Korea, Thailand, Cina, Vietnam, Rusia, Monggolia, Taiwan) yang rajin belajar dan jalan-jalan, sensei-sensei (dosen-dosen) yang pinter, low profile, dan baik, senior2, temen2 Jepang yang lucu-lucu (terutama kalau coba-coba ngomong pakai bahasa Indonesia), manager asrama yang selalu memberikan informasi tentang event-event yang ada di Jepang dan hobi mentraktir kita-kita (asikk…, itadakimasu!!). 

Masalah tetap ada, tapi ga mau akh, berkutat dengan itu. Mikirnya sih simple aja, segala sesuatu pasti ada sisi positif dan jalan keluarnya, pikirin dan maksimalkan apa yang aku punya, bukan apa yang aku ga punya. Akhirnya aku jadi bisa menjalani semuanya dengan lebih ringan.

Temen2 asrama bener2 baik dan supportive banget, walaupun di awal, aku hanya bisa berkomunikasi dengan beberapa teman, tapi mereka tetap selalu ngajakin aku buat jalan2 dan mau ngebantuin aku belajar bahasa. Setiap weekend, kita jalan-jalan keliling Tokyo. Kira2, sampai sebelum libur musim panas. Setelah itu, kita semua jadi pada sibuk, pada kerja part-time. Tapi, itu ga mengurangi kebersamaan kita. Kita selalu berusaha membuat waktu2 khusus untuk bisa kumpul bareng2, di samping kesempatan bertemu setiap hari di Communication Kitchen. Misalnya, pesta Ulang Tahun. Nah, ulang tahunku yang ke-20 juga dirayain di asrama ini. Berkesan banget, ditambah lagi Ulang Tahun ke 20 itu merupakan tanda kedewasaan buat orang Jepang. Setelah itu, jadi ga sering dikata-katain `masih 19 taon` lagi d. hehe. Ga masalah sih sebenernya, dulu sering dikatain masih 19 taon juga! It is always nice to be the youngest. Kya..kya..kya.. 

Kita semua pergi untuk melihat bunga sakura (Hanami) di taman deket asrama, jalan-jalan ke Tokyo Tower, Ginza (pusat perbelanjaan terbesar), lihat festival musim semi, ke Museum, ke Aquarium, pergi karaoke, pergi untuk pertunjukan kembang api (Hanabi), dll. 

Setelah perjalanan keliling Tokyo, di Libur musim panas, aku dan temen2 ku pergi ke Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang (3776m). gunung Fuji hanya bisa didaki di musim panas (Juli-Agustus). Bayangin aja, walaupun itu musim panas, tapi dingin banget dan begitu sampai di puncak, aku bisa merasakan tanganku beku. Turun dari gunung Fuji, langsung masuk pemandian air panas (onsen). Wuih, wuenakk e..

Beberapa hari setelah itu, dilanjutkan lagi dengan Homestay ke Hokkaido. Tinggal selama dua minggu di keluarga Jepang. Kemarin sempet bingung banget karena Host Family ku itu gat au sebenernya Negara yang namanya Indonesia. Mereka kirain India. Wadoh!! Selama dua minggu itu banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal baru, terutama belajar kebudayaan Jepang: Tea ceremony (tehnya pahit, tapi enak lho), Wearing Hakama ( jenis pakaian tradisional jepang, yang dulu dipakai oleh para Samurai, dan sekarang dipakai saat wisuda), School visit (ke SD yang ada di daerah tempat aku homestay). Di sini aku melihat cara pendidikan Jepang. Sejak dini, anak-anak udah dibiasakan untuk berbicara di depan umum. Walaupun hal-hal kecil, seperti membacakan menu makanan yang dimakan di jam makan siang. Ditambah lagi, setiap anak didorong untuk bisa mempunyai dan mengembangkan keahlian di bidang apapun. Setiap kali mereka memperkenalkan diri, mereka bakal nyebutin dan nunjukin keahlian masing-masing.

Setelah itu, dilanjutkan dengan perjalanan ke Kyoto, Nara, Kobe, Osaka. Berbeda dengan Nara dan Tokyo yang sangat kental nuansa tradisionalnya, Osaka dan Kobe ga jauh beda dengan Tokyo. Aku suka sekali dengan nuansa tradisional Kyoto. Waktu ada di sana, aku inget jogja terus lho.. (kangenn…!!)
Setelah pulang ke Tokyo, kita nonton pertandingan sumo (dapet tiket gratis dari kampus). Lucu d, pertama kali ngelihat pesumo secara langsung, pada chubby-chubby gitu. Jadi inget ama… (sensor!!). Tau ga, para pesumo itu makannya ga sering-sering lho, 1 hari tu hanya 2 kali. Tapi…., (masih ada tapinya lho), setiap kali makan, yang dimakan adalah porsi untuk 10 orang. Abis tu, biar bisa buntal, di samping latihan, kerjanya hanya tidur, santai-santai. Weleh-weleh..!!      

Aku belajar banyak hal selama ada di sini, bukan hanya dari kuliah-kuliah di kampus, tapi setiap hari, di kehidupan sehari-hari. Yang paling aku rasakan, TOLERANSI; belajar mengerti kebudayaan, kebiasaan, cara pikir orang-orang dari negara lain, yang seringkali berbeda, bahkan bertentangan dengan kita. Dan jujur, sering kali tidak mudah. Setiap saat, kesempatan untuk clash itu bisa aja muncul. Bayangin aja, disaat kamu makan, ada yang nyeletuk: ih, koq itu dimakan?? koq cara makannya gitu??. Di saat mau belajar, ada temen yang pengen curhat. waktu lagi tidur, tiba2 ditelepon buat ngebukain pintu (karena keluapaan bawa kunci). Mungkin sebenernya hal kecil, tapi kalau ga bisa toleransi, bisa susah banget.

Hal lain, banyak hal yang ga bisa dinilai dengan uang. Dan aku bersyukur banget, orang-orang yang ada di sekitarku, di tengah-tengah usaha untuk bisa bertahan dengan biaya hidup di Jepang, tetap bisa saling memberi. Setiap kali pulang dari bepergian, pasti bawain oleh-oleh buat penghuni asrama, sering masak dan makan bareng-bareng, ngasih hadiah buat temen-temen yang ulangtahun, dll.  Toh, banyak orang yang punya uang banyak sekalipun, tapi ga bisa sama sekali menikmatinya, atau orang2 yang kecanduan mencari uang, tapi ga tau dipakai untuk apa dan siapa. 

Berbekal dengan dukungan dari keluarga, dosen-dosen, teman-temen, aku malangkah ke negeri ini. Bukan hal yang mudah, di awalnya, tapi setelah dijalani, everything is so great. I thank them and you for that.

Nah, temen-temen yang mau coba buat mengikuti program beasiswa untuk belajar di luar negeri, sering-sering aja berkunjung ke website ugm. Di situ ada kolom info beasiswa luar negeri. Coba d, dijamin ga bakal nyesel. 

Ok d, segitu aja dulu, cerita dariku. Masih ada rencana buat main ski ke Nagano, ngelihat acara tahun baru, dan festival musim dingin. Oya, pada pernah nonton drama Jepang yang judulnya : Love Generation, ga (yang main: Takuya Kimura & Matsu Takako)? Kemarin, sebelum kesini, drama itu lagi diputar di Indosiar. Nah, lokasinya selain di Tokyo, juga ada di Nagano. Sejak saat itu, sebelum pergi ke sini, aku pengen banget bisa pergi ke Nagano. I will make it at the end of this month, guys. Asiikkk!! Asonda bakari yo, scan!!

Ok d, c u then..

Salam manis dari negeri sakura di musim dingin, 

Scan

2006: A year of ‘Sino-Indian partnership’

December 7th, 2006 by hi-ugm

Many of you may have not noticed that another ‘historic’ political development in Asia took place on last Monday, 20 November. President Hu Jintao paid a visit to India, the first Chinese head of state to do so in the last ten years. Having established diplomatic ties since 1 April 1950, both countries announced the establishment of their strategic partnership for peace and prosperity last April in a joint statement signed by Premier Wen Jiabao and Manmohan Singh. Sino-Indian relation, needless to say, has been one of the most important strategic relations in today’s world.

 

Central
to Hu’s agenda on this visit was endorsing further development in trade
relations as well as easing border tensions between Beijing and Delhi. None would question why economic and trade relations are one of major
themes of their relations. The combined population of two countries is
2.4 billion, or over a third of global population, understandably a
very huge market for any product. People’s Daily writes,
“In recent years … bilateral trade volume has grown by 20 to 30 percent
annually. It reached 18.7 billion U.S. dollars in 2005, up 37.5 percent
over 2004.” Therefore, it’s not surprising that China and India leaders believe that in the next three to five years Beijing could take over the U.S. position as the largest trading partner of Delhi. (It’s wise for one to be careful, however, when citing the likes of People’s Daily,
especially when it comes to statistics). China and India are repeatedly
considered as two new economic engines in the region (the so-called
‘two engines of an aircraft’ theory) that the UN’s World Economic Situation and Prospects 2006 report placed them as “still the highest-growth economies” despite a relatively slow growth of world economy.

 

Security is another major concern between these two giants of Asia. Still in the shadow of the 1962 Sino-Indian War, two most important security issues in their relationship are arguably Tibet and Pakistan. They have been ‘stones in their shoes’ for a long time. According to People’s Daily, Dalai Lama has recently turned down Tibetan independence and been seeking a special autonomy instead; however, China still treated Tibet and its people badly. The fact that Dalai Lama lives in exile in India make it quite difficult for India to respond to the problem; yet it repeatedly stated that it won’t back up an independent Tibet. China is a close ally of Pakistan that Delhi worries about Beijing assisting Islamabad in their dispute over Kashmir. So ‘hot’ this triangle relations has been that Pakistan inviteed China to be an observer in SAARC, which then triggered India to invite Russia for the same position!

 

Chinese
ambassador to Delhi Sun Yuxi reportedly said, “[the Hu’s] visit is of
milestone significance and it will advance bilateral, friendly ties in
a comprehensive way”. What Sun says is important for regional economic
and political stability. Despite trade frictions and security problems,
and things being equal, I think these two countries will become ‘new
centres of world economy’ in the near future. Should they maintain
their respective policy of liberalisation and globalisation, and manage
to settle down problems in their relations, the theory of ‘twin
engines’ may have further justification. However, Beijing and Delhi should also cooperate on their best efforts to make the poor happy and
safe; high economic growth means nothing if it fails to ‘make poverty
history’.

Nur Rachmat Yuliantoro
HI-92
Blog: The Dragon & The Eagle and Rachmat’s Days

Life After HI

December 4th, 2006 by hi-ugm

Dodi HI’97 minta saya nulis blog tentang Life After HI… Pertama kali nulis yang beginian, semoga isi tulisan sesuai permintaan Dodi…

Sesudah lulus HI, ngga tau kenapa, saya sekali pun belum pernah kepikir untuk tes di Deplu… Mungkin karena waktunya serba ngga pas dengan waktu kelulusan saya. Pengumuman tes Deplu biasanya pertengahan tahun, sementara saya lulus akhir tahun. Akhirnya saya mulai ‘kehidupan sesudah HI’ dengan kerja di UNSFIR (United Nations Support Facility for Indonesian Recovery), kerjanya jadi research assistant 4 bulan, terutama bagian penerjemahan Indonesia-Inggris hasil kuisioner konflik social dari responden di Ambon and Manado. Bisa dibilang sama sekali ngga HI sih, tapi untuk kerjaan pertama banget ngga ada ruginya lah.. Bidang kerjaan masih ilmu sosial yang jelas. Dan karena dulu ambil beberapa mata kuliah konflik, studi perdamaian, dkk, kerjaan ini nambah ilmu juga…


Dari dulu ngga tau kenapa saya minat sama kawasan Asia Tenggara n organisasi ASEAN. Jadi, sesudah kerjaan di UNSFIR selesai, salah satu lamaran kerja yang saya kirim adalah ke ASEAN Secretariat yang kebetulan kantornya di Jakarta. Kebetulan pas saya ngelamar, saya dipanggil tes n interview, n ketrima. Sesudah keterima, baru tau bahwa bidang kerja saya adalah ASEAN Regional Forum, pastinya nanganin isu kerjasama politik n kemanan. Whaw! HI banget ini… Yang namanya kerjaan pertama2, yang penting tujuannya adalah belajar bekerja, alias cari pengalaman. Ngga kebayang kerjaannya kayak apa, tapi yang penting saya yakin itu bidang saya: HI kawasan Asia Tenggara n Pasifik n dalam lingkup kerjasama ASEAN. Jadi ini bener2 kerjaan impian.


Sampai sekarang ngga terasa saya udah hampir 3 tahun di ARF Unit-nya ASEAN Secretariat. Semua yang saya pernah bayangin waktu kuliah HI jadi kenyataan selama kerja di sini. Saya ikut pertemuan2 tingkat pejabat senior Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan negara2 ARF (total sekarang ada 26 negara). Setahun sekali, ikut pertemuan menteri luar negeri negara2 ARF. Karena pertemuan2 ini banyak diadain di negara2 anggota ARF, saya jadi dapat kesempatan untuk berkunjung beberapa hari ke negara2 ini. Cuma sebentar2 sih, paling lama 1 minggu, tapi lumayan banget buat nambah pengalaman selagi muda, he3x… Anak HI mana sih yang ngga pingin bisa pergi ke Eropa, Amerika, Cina, Australia, n negara2 Asia Tenggara dengan bayar cuma pake kerja doang alias gratis tis… Anak HI mana juga yang ngga berasa seneng ketemu langsung di forum pertemuan internasional sama orang2 yang selama ini cuma bisa dilihat di TV n koran… Condoleezza Rice, Colin Powell, Alexander Downer, Ali Alatas, misalnya… Pasti sih ada yang sebel liat orang2 yang menurut tulisan2 di media sering bikin kebijakan yang aneh n meresahkan dunia. Biar kata begitu, kalo dah langsung ketemu langsung sama orangnya, dengerin orang2 ini ngomong, pasti bohong kalo kita ngga berasa seneng sedikit pun. Soalnya, mereka2 ini senyebelin apa pun tetep aja tokoh dunia gitu…


Kalo urusan tugas sehari-hari, yang jadi syarat utama di kerjaan yang sekarang adalah bisa nulis n bicara dalam bahasa Inggris dengan baik n benar. Karena kerjaan di kantor adalah berhubungan dengan orang2 dari negara2 se-Asia Pasifik, bahasa Inggris pantang malu2in kantor deh. Apalagi kalo dah nulis paper, ngomong ama diplomat2 senior di forum2 pertemuan resmi, nulis surat, atau bahkan e-mail ke mereka2 ini, bahasa Inggris harus rapi n sopan banget kalo ngga mau ditegur bos.


Paling bangga kalo draft tulisan kita dipakai untuk dipresentasikan di depan para pejabat2 senior ini dari puluhan negara2 ini… Secara kita orang Indonesia yang dari sisi bahasa Inggris sering kalah keren ama orang2 native speaker, eh, sekarang apa yang kita tulis dibacain di depan mereka n bahkan mereka catet gitu loh. Wuuh.. senengnya kalo dah begini. Tapi sebaliknya, bete banget kalo paper kita belum nyampe mana2 dah dicoret2 sama bos untuk direvisi karena isinya kurang begini begitu n bahasa Inggrisnya dianggap kurang layak tampil.. Tapi ngga papa sih, namanya juga belajar kerja gitu loh…


Masalah tantangan sekarang. Untuk anak HI yang selama minimal 7 semester kuliah dilatih untuk nulis paper, kerjaan ini mungkin berasa balik ke kampus aja kecuali sekarang semua paper ditulis pake bahasa Inggris. Tantangan terbesar yang saya alami justru adalah bekerja dengan orang2 dari macem2 negara. Sifat n bawaan orang dari 10 negara ASEAN aja dah beda2. Apalagi kalo dah berurusan sama orang non-ASEAN yang dari sononya bawaannya sopan banget tapi maunya maksa, sopan banget tapi acuh n jaim, atau yang paling parah: udah ngga ada basa basi maunya maksa pula. Sakit hatiiii banget kalo dah ketemu jenis orang2 yang terakhir ini… Kita berasa direndahin, padahal sebenernya dia minta tolong ke kita… Kita ngga bisa nolak apalagi bales ngga sopan, karena tugas kita emang bantuin mereka. Intinya, mau marah pun kudu diplomatis n pake etika… Duuuhh… cape mental deh…


Ada sih yang bilang kerjaan kayak gini boring karena berurusan sama birokrat, banyak meeting tapi tanpa hasil, kerjaan cuma basa basi doang, kurang menantang, dll. Terserah apa kata orang, tapi siapa pun yang dah ngalamin kerja kayak saya sekarang dijamin ngga ada nyeselnya. Secara ini kerjaan jangka panjang (long-term) pertama sesudah lulus HI, ngejalanin kerjaan ini beneran kayak merasakan apa yang selama ini kita bayangin waktu masih kuliah. Dulu kita di HI belajar melihat segala kejadian di dunia politik internasional dari sisi teori. Di kerjaan yang sekarang saya belajar melihat itu dari sisi prakteknya. Betapa luar biasa susahnya n lamanya 26 negara aja berdiskusi, saling melobi di forum pertemuan maupun di belakang pintu demi mencapai kesepakatan tentang satu hal yang sepele n keliatannya ngga penting banget. Itu kenyataanya. Padahal teorinya sih, kedengarannya gampang banget dilaksanakan.

Yah gitu deh, gambaran salah satu kerjaan potensial buat anak HI. Layak banget dicoba, teman2. Buat kerjaan tetap lumayan bisa mencukupi buat hidup, buat sekedar belajar kerja ala diplomat junior apalagi – ngga bakal nyesel, dijamin!

Retno Astrini

HI-97